Beberapa orang yang mengetahui bahwa saya mempelajari dan menulis tentang OCD, bertanya pada saya, “Jadi, bagaimana sebenarnya menjalankan diet OCD ini? Apa cara melakukan IF juga sama dengan OCD? Berikut saya kemukakan beberapa teknik menjalankan OCD ataupun IF ini.

Dalam menjalankan diet OCD, ada satu istilah unik yang baru diperkenalkan oleh Deddy yaitu istilah “Jendela Makan”. Apa itu Jendela Makan?

Diet OCD menonjolkan teknik berpuasa. Puasa yang sudah dilakukan oleh semua orang di seluruh dunia sejak jaman dahulu kala, ternyata telah terbukti secara medis dapat merangsang produksi berbagai hormon-hormon katabolisme (hormon untuk mengeluarkan cadangan energi tubuh, termasuk menghancurkan lemak). Puasa yang dimaksudkan disini bukanlah puasa tidak makan tidak minum seperti yang dilakukan oleh para umat Muslim di bulan Ramadhan. Puasa disini artinya tidak menambah asupan kalori apapun. Makan maupun minum tidak dilarang, asalkan tidak berkalori (zero calorie), seperti teh tawar, kopi tanpa gula, ataupun makanan tanpa karbohidrat lainnya. Buah, susu, ataupun minuman berkalori tidak diperbolehkan. Jika Anda melanggarnya maka diet yang anda lakukan bisa gagal total.

Saat kita “Berbuka” puasa dan boleh mengkonsumsi berbagai makanan dan minuman adalah “Jendela Makan” yang dimaksud tadi. Pada jam-jam tersebut, kita boleh memakan apa saja seperti pola makan kita biasanya (Bukan boleh makan sesukanya, tapi boleh makan seperti sediakala. Tetap tidak boleh makan berlebihan.)

Dalam teknik OCD, Ada 4 Jendela Makan, kapan sajakah itu? yuk kita lanjut baca lagi!

1. Makan 8 Jam dengan puasa selama 16 Jam

Maksudnya Kamu diperbolehkan untuk makan apapun (selama dalam batas wajar), bahkan makan tiga kali sekalipun, dalam kurun waktu 8 jam tersebut. Sebagai contoh: Kamu ambil jendela makan mulai jam 12 siang sampai 8 malam, maka pada saat itu Kamu boleh makan dan setelah itu Kamu tidak boleh makan sedikitpun, kecuali minum.

2. Makan 6 jam dengan puasa selama 18 jam

Dengan jendela makan 6 jam, berarti Kamu hanya punya waktu makan 6 jam dan harus berpuasa 18 jam sehari. Jika Kamu mulai makan jam 12 siang, jam 6 sore Kamu harus mulai berpuasa kembali hingga esok harinya pukul 12 siang kembali.

3. Makan 4 jam dengan puasa selama 20 jam

Dengan mengambil komitmen jendela makan 4 jam, waktu makan Kamu mulai menyempit. Kalau Kamu mulai makan pukul 2 siang, maka Kamu hanya boleh makan sampai jam 6 sore saja. Selanjutnya, Kamu mesti berpuasa kembali hingga pukul 2 siang keesokan harinya… Hmm, tampaknya semakin berat..

4. Puasa Selama 24 jam

Tidak semua orang dapat melakukannya, namun jika Kamu bisa melakukannya, jendela makan ini adalah jendela makan yang paling memberikan hasil maksimal. Sekali sehari, Kamu boleh makan apapun, tapi sewajarnya. Sisanya wajib puasa.

Sebagai contoh, jika Kamu makan Kamis jam 12 siang, maka kamu boleh makan lagi besok Jum’at jam 12 siang lagi.

Deddy dalam bukunya menganjurkan Kamu untuk melakukan puasa 24 jam ini sebanyak 2 kali dalam seminggu. Setelah puasa dua kali dalam seminggu terpenuhi, Kamu boleh kembali lagi ke jendela makan puasa makan 4 jam

Beliau juga menyarankan buat Kamu yang baru memulai mengikuti program diet ini, sebaiknya mengambil jendela makan mulai dari yang paling ringan misalnya jendela makan 8 jam, kecuali kalau Kamu yakin bisa melakukan puasa 24 jam.

Namun demikian, beberapa penelitian mengatakan bahwa teknik puasa berkala (Intermittent Fasting) ini sebenarnya baru memberikan hasil maksimal dan tampak jelas manfaatnya bila kita melakukan puasa selama 24 jam. Pada saat kita berpuasa cukup lama (24 jam) ini, berbagai hormon akan dikeluarkan tubuh untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh yang menyebabkan pembakaran lemak dan cadangan glukosa dalam hati dan otot.

Bagaimana kalau kita tidak kuat berpuasa selama 24 jam?

Well, Deddy mengatakan dalam bukunya bahwa diet OCD ini tidak memerlukan olah raga ataupun suplemen apapun. Namun, pada kenyataannya, berdasarkan riset saya yang saya lakukan dari literatur medis, teknik diet tipe Intermittent Fasting seperti ini sebetulnya baik sekali jika dikombinasikan dengan olah raga. Mengapa? Olah raga akan mempercepat dan meningkatkan produksi hormon-hormon tersebut.

Kalau kamu bisa melakukan olah raga secara rutin setiap hari, maka puasa 18 – 20 jam sudah setara dengan puasa 24 jam tanpa berolahraga.

Adakah manfaat suplemen?

Suplemen juga dapat membantu mempercepat pembakaran lemak ataupun menghambat penyerapan gula dalam makanan, sehingga memiliki efek sinergis dengan diet yang Kamu lakukan. Pilihlah suplemen yang teruji dan direkomendasi oleh para Ahli, karena saat ini banyak sekali obat-obatan yang dibungkus seperti suplemen, dan banyak pula suplemen yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagaimana cara mengkombinasikan semuanya agar mendapat hasil maksimal?

Pertama, konsultasikan dengan ahlinya untuk mendapatkan pola terbaik untuk dirimu. Karena kondisi setiap orang tentu berbeda.

Kedua, untuk mendapatkan hasil yang diharapkan kita wajib mempunyai niat untuk berubah dan konsistensi menjalankannya. Jangan setengah-setengah.

Kombinasi dari semua teknik ini akan menunjukkan hasil dalam waktu kurang dari 2 bulan! Tentu saja tergantung dari komitmen dan kedisiplinan kita menjalankannya.

Selamat mencoba! Yakinlah pasti berhasil!

 
 
Kontributor:
 
 
dr Kristoforus HD
Seorang dokter penyakit dalam dan sekaligus ahli vaksinologi dan terapi alternatif dengan TCM. Direktur sekaligus pendiri dari In Harmony Clinic – sebuah klinik Medis, Alternatif, dan Preventif, yang berfokus pada Pencegahan melalui vaksinasi dan penggunaan suplemen-suplemen herbal yang bersertifikat dan telah teruji. 
 
Related Articles:
1. OCD Dalam Kacamata Seorang Dokter: Ketika Sejarah Berpadu dengan Ilmu Pengetahuan
2. Obsessive Corbuzier’s Diet (OCD) – Apa benar sebuah DIET?